Musuhku Sahabatku


Aurina berjalan menyusuri koridor sekolah yang sangat sepi. Ia hanya berdoa dalam hatinya, semoga para makhluk yang ia temui hari ini tidak seganas yang dulu. Aurina memperlambat langkahnya. Ditengoknya kanan-kiri dan tidak ada satupun makhluk yang berada disekelilingnya. Diketuknya pintu yang ada didepannya. Tak perlu menunggu lama. Pintu itu terbuka dan munculah seseorang dari baliknya. “Mari masuk nak.” Ucap seorang wanita separuh baya yang mengenakan seragam biru. “Iy..Iya bu.” Ucap Aurina gugup. Aurina duduk dengan hati sedikit tenang. Untung aja kepseknya baik. Ucapnya dalam hati. “Kamu membawa semua surat yang ibu minta kemarin kan.” Tanya Bu Sri lalu mengambil kacamatanya dimeja. “Sudah semua bu.” Jawab Aurina sambil mengeluarkan beberapa dokumen dari tasnya. Bu Sri yang duduk disebelahnya-pun langsung memeriksa semua dokumen Aurina. “Aurina Silvinalia. Tinggal di perumahan Cempaka blok A nomer tiga.” Gumam Bu Sri sambil membolak-balik dokumen Aurina. “Baik. Mari ikut saya.” Ucap Bu Sri lalu berjalan meninggalkan Aurina. Bu Sri berjalan didepan Aurina dengan langkah cepat. Mereka berhenti didepan kelas yang sangat sepi. Diketuknya pintu kelas itu oleh Bu Sri. Lalu ia masuk bersama Aurina. “Permisi Bu Nia. Saya hanya ingin mengantarkan murid baru dikelas ini.” Ucap Bu Sri setengah berbisik pada Bu Nia, guru Bahasa Indonesia yang terkenal sangat baik pada muridnya. “Ayo. Perkenalkan namamu.” Ucap Bu Sri sambil melirik Aurina. “Nama saya Aurina Silvinalia, saya pindahan dari SMA 1 Bogor, saya pindah karena mengikuti orang tua saya yang sedang ada proyek disini.” Ucap Aurina panjang lebar. “Oo.. jadi kalo orang tua loe ada proyek di akhirat, loe ikutan juga.” Ucap Ara lalu disergai dengan tawa para temannya. “Sudah sudah..” Ucap Bu Nia lembut. “Aurina. Kamu duduk disebelah Rey.” Ucap Bu Sri menyilahkan.
Aurina berjalan menuju bangku barunya disekolah. Ia duduk masih dengan terus berdoa seraya para makhluk yang ada disekitarnya sekarang tidak akan bebuat macam-macam padanya. Ya tuhan maaf dehh. Kalo dulu gue sering ngerjain anak baru dikelas. Tapi gue tahu kok gimana rasanya jadi anak baru dan bener-bener menyiksa. Semoga apa yang gue perbuat ke Sierra nggak bakal keulang disinii. Jangan datangkan karma sekarang tuhan. Pliiisss. Gumam Aurina dalam hati. “Hei. Aku Reina Alviona.” Ucap Rey sambil mengulurkan tangannya. “Aku Aurina. Panggil aja Ryn.” Ucapnya sambil membalas uluran tangan Rey. Kok nggak bisa lepas sihh. ehh ehh apaan nihh. Kok lengket. Ucap Ryn dalam hati sambil tetap tersenyum pada Rey. “Kok nggak bisa lepas yaa.” Ucap Ryn sambil melihat tangannya. Ditariknya tangan Rey dan. Yiiiyyyy apaan nihh. Permen karet. Pliisss tuhan bisa mati muda gue dikelas ini. Batin Ryn. “Ehh sorry yaa. Permen karetnya nyangkut.” Ucap Rey lalu tersenyum. Ryn hanya membalas ucapan itu dengan senyum manisnya. Ryn segera keluar dari kelas lalu membersihkan tangan mungilnya itu. Tak berapa lama ia kembali kekelasnya sambil mengira-ngira apa yang akan diperbuat para teman barunya kali ini.
Berhari-hari Ryn merasakan penyiksaan para temannya yang sangat menyiksa batinnya. Rambut Ryn yang tadinya panjang tiba-tiba terpotong karena adanya permen karet yang nyangkut dirambutnya. Setiap hari ia selalu piket, membersihkan kelas karena temannya selalu menyuruh dia piket setiap hari. Terkadang dia tidak diberitahu bahwa hari ini ada ulangan. Barang-barangnya banyak hilang seketika. Dan yang paling parah adalah saat kunci mobil Ryn yang hilang. Dan tiba-tiba kunci itu sudah berada di dalam mobilnya.
Sore ini waktunya buat Ryn shopping-shopping. Ia berjalan menuju pintu plaza dengan mengenakan celana jeans dan kemeja yang membalut kaos ungunya. Saat ia hendak menyebarang. Tiba-tiba. Braakkk… Ryn terjatuh dan. “Loe nggak pa-pa kan.” Tanya Ryn pada seorang cewek yang ada dalam dekapannya. “Nggak pa-pa kok.” Ucap seorang cewek berambut panjang sebahu. “Heii. Lhoo. Rey.” Ucap Ryn sambil mengambil tasnya yang terlempar didekatnya. “Ehh loe Ryn. Hmm makasih yaa mau nolongin gue.” ucap Rey lalu berdiri. “Loe beneran nggak pa-pa kan. Hampir aja ketabrak taksi.” Sahut Ryn. “Nggak kok. Ehh loe mau shopping juga.” Tanya Rey sambil berjalan memasuki plaza. “Iyaa nihh. Mau nyari sepatu sama baju. Kalo loe.” Tanya Ryn sambil terlihat mencari-cari baju yang ia inginkan. “Yaudah bareng aja sama gue. yuukkk.” Ucap Rey lalu menggandeng Ryn menuju salah satu toko sepatu.
Usai berbelanja Rey mengajak Ryn kerumahnya. Rumah Rey tampak sepi. Entahh pada kemana penghuni rumah itu. Ryn dan Rey tampak akrab. Sampai-sampai Rey lupa pada perjanjiannya. “Asyik ya jalan sama loe.” Ucap Rey sambil membolak-balik majalah girl yang baru ia beli tadi siang.
Rey sering mengajak Ryn main kerumahnya. Mereka sering belanja bareng. Tapi Rey selalu bersama dengan Ryn hanya saat diluar sekolah. Didalamnya, Rey masih bersama teman-temannya untuk ngerjain Ryn.
“Rey. Boleh nanya nggak.” Ucap Ryn sambil terus mengunyah permen karetnya. “Apaan.” balas Rey santai. “Kenapa sihh. kayaknya tiap hari tuhh anak-anak pada ngerjain aku terus.” Tanya Ryn ingin tahu. “Apa mereka nggak suka sama anak baru yaa.” Ucap Ryn sambil memalingkan wajahnya dari Rey. “Loe bakal tahu kok besok.. ohh yaa besok berangkat bareng sama gue ya.” Ucap Rey lalu tersenyum. What. Berangkat sekolah bareng. Tumben amet nie anak ngajakin gue bareng. Bukannya kalo disekolah dia selalu jauhin gue yaa. Batin Ryn.
Pagi ini Rey berangkat sekolah bareng Ryn. Semua tampak biasa saja. Sampai Rey dan Ryn akan membuka pintu kelas daannn.

“WELCOME TO NEW CLASS RYN….” Teriakan itu hampir buat Ryn meloncat saking kagetnya.
“Ada acara apaan.” Tanya Ryn bingung.
“Hmmm mending loe duduk dulu dehh.” Ucap Faby mempersilakan.
“Jadi gini. Kita ini kelas XI-2 emang udah bikin perjanjian ini dari dulu.”
“Perjanjian… soal.” Tanya Ryn makin penasaran. Apaan sihh. ohh my god jangan sampai mereka buat perjanjian bakal makan gue bareng-bareng. Pleeeassee god. Selamatkan hambamu yang tak berdosa ini. Pekik Ryn dalam hati.
“Jangan takut, kita nggak bakal makan loe kok.” Ucap Ara seolah tahu apa yang dipikirkan Ryn.
“Kita ini dulu pernah bikin perjanjian. Namanya..”
“MUSUHKU SAHABATKU…” teriak semua penghuni kelas XI-2
“Jadi isi perjanjian itu adalah. Kita bakal ngerjain habis-habisan setiap ada penghuni baru dikelas ini. Entahh itu guru baru. Murid baru. Atauu apalah itu. Tapi kita ngerjain mereka cuman satu bulan aja kok. Nggak lebih. Makanya loe dikerjain terus dikelas ini. Kita cuman pengen ngetes doang. Gimana sihh imannya. Kuat nggak ngadepin kita semua. Daann…. loe berhasil.” Ucapan panjang lebar Rey itu bener-bener buat Ryn ternganga. Dia masih nggak percaya dengan semua ini. Loe pikir segampang itu. Gilaa. Itu penyiksaan. Perjanjian mahh nggak gituu gituu amat setau gue. Batin Ryn. Dengan wajah lesuh tanpa ekspresi.
“Nggak marah kan. Nggak pa-pa kan.” Tanya Faby memastikan.
“Hmmm.. Padahal gue baru aja mau minta pindah sekolah.”
“Haa.. yang bener.”
“Hmmm gimana yaa.”
“Yahh nggak seru loe Ryn. Baru gituu aja mau pindah. Baru satu bulan juga.”
“Hehe. Nggak kok. Bercanda. Btw. Makasih yaa. Kalian mau nerima gue disini.” Teriak Ryn lalu memeluk Rey dan Faby.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s