Cerpen

~ A Little Change now For A Big Change Tomorrow ~
Merasakan sapaan lembut angin pagi yang berhembus di tengah merdunya lantunan ayat ayat suci Allah yang dibaca beberapa santri sudah menjadi kebiasaanku 3 tahun terakhir. Awalnya adalah sebuah penyesalan mendalam, tapi tidak seburuk yang orang katakan bahwa pecandu akan sulit disembuhkan. Al-qur’an yang dulu sangat jarang, bahkan nyaris tak pernah kusentuh, kini selalu ada dalam dekapan tanganku. Awalnya memang sangat sulit merubah segalanya, tapi 3 tahun berlalu kurasa cukup mengubah gaya hidupku.
“Sha, barang barangmu sudah siap kan ?” Suara Rizmi sayup sayup kudengar. Ku tolehkan kepala, dan tampak sesosok gadis seumuranku lengkap dengan rok dan jilbab yang selalu melekat di badanya. Kulemparkan seulas senyum, lalu bangkit menemui orang yang sudah mengubah hidupku itu.
***
Jakarta, Mei 2007
“Loe lulus sha ?” asap rokok mengepul disela cengiran Emilia. “Eh, lo gak usah banyak bacot deh ! lo kira gue kelewat bodoh apa ? gini gini gue dapet peringkat 5 se sekolah !” balas Kesha dengan asap rokok yang tak kalah parahnya dengan Emilia. “Bagus banget.. seorang Kesha Almira bisa dapet peringkat 5 ! tapi dari bawah ! hahaha” tawa Emilia meledak. Dan sejurus kemudian dia mengeluarkan beberapa buah botol warna hijau yang mudah dijumpai di club malam di seantero jakarta. “Oh my god ! lo mau minum lagi ?” Kesha bangkit dari kursi reot yang didudukinya. “Kenapa ? Bukanya lo kemarin juga ikutan minum ? nggak usah sok suci deh lo ! udah, kita rayain kelulusan kita yang merepet ini. Haha” Emilia menyodorkan 1 dari 5 botol yang dibawanya. “Gue bingung em, gue mesti tinggal sama sapa ? Bokap udah nggak ada. Nyokap malah gue nggak tau dia sekarang nikah sama siapa” Celetuk Kesha, lalu meneguk minuman haram yang diberikan Emilia. “Kenapa bingung ? lo anggep gue apa ? ini rumah kita ! lihat, udah tinggal gratis, bisa hura hura tanpa harus ketauan polisi, kurang apa coba ini rumah ?” Emilia membanting pelan botol minuman kerasnya. “Terserah. Toh nyokap gue juga udah lupa pernah punya anak kayak gue”.
Sudah sejak lulus SMP Kesha menjadi anak yatim, dan selama itu pula Kesha mulai mengenal Emilia yang memperkenalkanya pada kehidupan bebas dengan segala resiko narkotika disekitanya.
***
“Em.. Emilia !” Kesha masuk ke dalam rumah pengap di sudut kompleks perumahan menengah ke atas itu dengan sempoyongan menahan tubuhnya. Suaranya bergema, tak ada sahutan dari empunya rumah. “Emiliaa !!” teriaknya lebih kencang. Malam yang mulai sepi tidak dipedulikanya, Kesha tetap berteriak memanggil Emilia.
“Emil..” Suara Kesha tertahan saat mendapati tubuh pucat yang tergeletak di kamar yang penuh aroma rokok itu. Bibir Emilia putih pucat, puluhan bungkus rokok, beberapa obat yang tidak jelas asalnya, dan botol botol minuman keras menghiasi kamar 4×5 meter itu. “Emili ! heh, lo nggak usah ngelucu ! ini nggak lucu bodoh !” Kesha mengguncang guncang tubuh dingin di hadapannya itu. “Emilia bangun ! em ? Emilia !” Kesha mulai resah mendapati temannya tak kunjung sadar. Di pegangnya pergelangan tangan emilia yang sudah tidak terdapat denyut nadi lagi. “Emilia ! lo kenapa ? bangun bodoh !” Kesha menepuk nepuk pipi Emilia, tapi nihil. Kesha membanting tangan Emilia kesal. Berteriak frustasi, lalu menendang apa saja yang menghalangi jalanya. Tatapanya berhenti pada sebungkus obat biru muda yang berserakan di bawah tempat tidur dimana gadis cantik tak bernyawa itu berada. Kesha memungut beberapa butir pil yang bertuliskan watson540. “Lo dapet obat ini dari mana hah ?” Kesha menendang tubuh emilia. “Dasar bego ! Emilia bego ! pasti lo ditipu orang. Dasar anak bego !!” bulir bulir bening mulai berjatuhan dari pelupuk mata Kesha. Rambut pendeknya tak lagi teratur. Umpatan umpatan keluar satu persatu dari mulutnya, hingga kepalanya terasa begitu berat dan dunia seakan berputar begitu cepat. Dan semuanya berangsur angsur gelap.
***
Pemakaman Emilia hanya dihadiri Kesha dan tukang gali kubur yang dipanggilnya dengan sisa uang yang dia punya. Perasaan campur aduk menyelubungi lubuk hatinya. Bahkan tukang gali kubur yang disewanya hanya bisa geleng geleng kepala melihat seorang gadis belia yang meratapi kepergian temannya itu. “Dasar Emilia bego !!” teriak Kesha frustasi.
Tukang gali kubur itupun diam membeku. Bahkan sepasang mata milik seorang peziarah mengamati dan ikut mengelus dada menyaksikan kelakuan Kesha.
“Assalamualaikum mbak. Mbak tinggal dimana ?” Tanya peziarah tadi menyalip langkah Kesha. Kesha yang masih memakai kaos oblong dirangkap kemeja kotak kotak dan jeans lusuh semalam menoleh dan mengernyutkan dahinya. “Di bumi” jawab kesha singkat. “Maaf mbak, apa mbak punya keluarga ?” tanyanya lagi. “Nggak” jawab Kesha masih singkat. “Kalau begitu mbak tinggal dengan siapa ?” sang peziarah masih bertanya. “Apa urusan lo ? Emangnya lo mau bantu gue kalo gue nggak punya rumah ? Lo mau nanggung beban gue ?” semprot Kesha yang mulai kesal. “Maaf mbak, kalau mbak mau saya bisa bantu” tawar peziarah itu. “Lo itu siapa ? nggak usah sok peduli deh” Kesha menghentikan langkahnya, menatap tubuh kurus peziarah. “Saya Zhafira Khawarizmi. Panggil saja Rizmi. Kalau mbak mau, mbak bisa ikut saya ke Mojokerto. Disana mbak bisa tinggal dan makan gratis” seulas senyum berkembang di muka Rizmi. Kesha tersenyum sinis, “Gue Kesha. Hari gini gratis ? gue mesti kerja apa disana ? Pembantu, hah ?”. “Bukan mbak, semacam promo bimbingan belajar saja” jelas Rizmi berbohong. Kesha membuang muka, melanjutkan jalanya. Rizmi tak kehabisan akal, dia segera memencet nomer telepon di ponselnya, “Assalamualaikum abah, rizmi ketemu anak seusia rizmi di Jakarta. Kayaknya dia nggak punya keluarga gitu bah. Rizmi ajak pulang boleh bah ?”. Dan sekali lagi seulas senyum tersirat di wajah Rizmi, lalu mematikan ponselnya. Rizmi mengejar Kesha yang belum jauh, lalu menyodorkan secarik kertas. “Kalau mbak mau, hubungi saya ya. Besok saya kembali ke Mojokerto”
***
Hiruk pikuk terminal di pinggiran Ibu Kota Indonesia itu sudah terasa sejak pagi. Rizmi beserta tas hijau yang dibawanya masih berharap kedatangan Kesha. Tapi hingga matahari mulai memanas pun, Kesha tak kunjung datang. Jam tangan Rizmi menunjukan pukul 11 siang. 15 menit lagi bis terakhir jurusan Mojokerto akan berangkat. Rizmi masih mengedarkan pandanganya, mungkin saja Kesha akan datang.
“Mojokerto ! Mojokerto !” suara kernet bus menggelegar, menandakan bus siap berangkat. Rizmi mulai putus asa, diputuskanya untuk meninggalkan Kesha yang tak kunjung datang. Dilangkahkan kakinya memasuki bus yang penuh dengan bau keringat bercampur makanan, dan sebagainya. “Heh Mojokerto !” teriak seseorang dari belakang. Rizmi dan beberapa penumpang menoleh.
“Kita mau kemana ?” tanya Kesha yang duduk di dekat jendela. “Di Pacet, Mojokerto” jawab Rizmi sambil tersenyum. Rizmi tak meneruskan lebih jelas kata katanya, begitu pula Kesha yang tidak peduli mau dibawa kemana hidupnya nanti.
***
Pagi buta mereka sampai di perkampungan nan sejuk di tengah hutan. Jam masih menunjukkan pukul 4 pagi. Tapi aktifitas penduduk sudah terlihat di semua sudut desa. Suara ayam yang bersahut sahutan, suara gemericik air sungai yang mengalir jernih di pinggiran persawahan yang dihiasi pegunungan biru, sampai suara santri santri yang mengalunkan ayat suci Al-Qur’an bercampur menjadi melodi indah di pagi hari.
“Lo bawa gue ke pesantren ?” tanya Kesha masih dengan nada ketus. Ada sedikit kekaguman dilubuk hatinya melihat aktifitas yang jarang dia temukan di perumahan Emilia saat pagi buta seperti ini. “Tak kenal, maka tak sayang. Masuklah dulu, udara diluar sangat dingin” Rizmi menimpali dengan lembut.
Masuklah mereka ke dalam pelataran masjid besar yang luasnya menyerupai lapangan sepak bola. “Rumahku di bekang masjid” seru Rizmi yang hanya diikuti derap langkah Kesha. Seorang bapak paruh baya sudah duduk dengan al-qur’an kecil ditanganya di serambi rumah sederhana yang tidak terlalu besar tapi teduh itu. “Assalamualaikum, abah”. Aktifitas tadarusnya pun dihentikan sejenak, “Waalaikumsalam warahmatullahi wabaraktuh” jawabnya bersahaja. Rizmi mencium telapak tangan abahnya, Kesha yang melihatnya jadi kikuk dan hanya membungkuk kecil. “Abah, ini Kesha yang mau belajar disini” seru Rizmi. Kesha mengernyutkan dahinya tak setuju dengan ucapan Rizmi. Kesha masih dengan raut muka datar menjawab, “Kesha Almira om”. “Jangan dipanggil om, panggil abah saja” jawab abah Rizmi tersenyum.
***
“Gue mau pulang” seru Kesha tiba tiba. Rizmi yang mendengarnya menghentikan kegiatan menyapunya, “Mau pulang ? Pulang kemana ?”, “Ke Jakarta lah” jawab Kesha kasar. “Kamu punya uang buat kembali ? Tas kamu mana ?” tanya Rizmi lembut, tapi langsung membuat Kesha sadar kalau dia tak membawa satu benda apapun dari Jakarta. Semuanya ditinggal, kecuali hooddie putih yang dari kemarin dipakainya. Kesha menepuk jidatnya kesal, “Shit !”. “Astaghfirullah Kesha !” Rismi yang mendengar kata umpatan dalam bahasa inggris yang dilontarkan kesha langsung menatap Kesha tajam. “Loh, lo tau gue ngomong apa barusan ?” tanya Kesha. “Ukhti, keep your mouth please. You can’t said like that in mosque area*” ucap Rizmi sempurna dalam logat britishnya. Kesha melongo parah, baru menyadari kalau gadis dihadapanya sangat lancar berbahasa asing. Beda sekali dengan dirinya yang hanya hafal kata kata umpatan. “Sudah, ukhti** mandi dulu sana. Nanti aku pinjamkan pakaian” seru Rizmi lagi sambil menyandarkan sapunya pada tembok besar belakang masjid.
*Mbak, jaga perkataanmu. Kamu tidak bisa bicara seperti itu di lingkungan masjid
*Ukhti : panggilan terhadap orang / saudara perempuan dalam bahasa arab.

***
Jadi, dari hari itu semua perubahanku berawal. Awalnya geram, diatur sana sini, tidak boleh begini, tidak boleh begitu. Awalnya berat membiasakan hal yang nyaris tak pernah kulakukan. Tapi dengan sabar Rizmi dan abahnya mengajariku, membenahi pondasi agamaku, tata bahasa dan tingkah laku yang tidak sopan, sampai mengajari pronounciation inggris dan arab sampai aku bisa menjadi seperti ini sekarang. Aku yang mengenakan jilbab biru, kemeja, dan masih seperti dulu, celana jeans. Aku yang mendapat undangan khusus menjadi pembicara anti narkoba di Jakarta. Siapa yang menyangka ? Aku yang dulu nyaris mengikuti jejak almarhumah Emilia yang meninggal karena narkoba, kini malah diundang menjadi pembicara di Jakarta. 3 tahun cukup mengubah otakku yang sebenarnya tidak bodoh, karna seperti abah bilang, tidak ada manusia yang diciptakan pintar ataupun bodoh, tinggal mereka mau mengasahnya atau tidak. Kini aku sedang belajar S1 di ITS Surabaya dan telah berhasil menjuarai beberapa ajang pidato papan atas. Sebuah mobil avanza hitam membunyikan klaksonnya tepat di depan pelataran masjid yang menjadi rumahku selama ini.
“Ayo berangkat Kesha” seru Rizmi menarik tanganku. Selepas melepas salam dan seulas senyum pada abah dan umi yang melambaikan tangannya, mobil yang kutumpangi pun melaju perlahan melintasi jalan kecil pedesaan tengah hutan ini.
***
Hari ini, aku yang dulu tak pernah sedikitpun punya mimpi untuk berorasi di atas megahnya panggung, kini akan kubuktikan pada dunia betapa berharganya hidup seorang manusia, betapa bahayanya dampak iman yang kian menipis di remaja indonesia, dan betapa bahayanya narkotika yang terjual bebas. Narkotika yang telah membunuh teman lamaku. Seperti firman Allah SWT, “Innallaha laa yughayyiruma biqaumin hattaa yughayyiruma bianfusihim”. Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sebelum mereka mengubah keadaan diri sendiri. Seharusnya negara sebesar Indonesia yang mayoritas penduduknya muslim, bisa berpegang pada firman tersebut. Kalau tidak dimulai dari dalam diri sendiri untuk menjauhi obat terlarang dan segala keburukan, kapan lagi ? Mau menunggu sampai matahari terbit dari barat ? Jangan mencoreng nama baik merah putih hanya dengan sebuah pil kecil yang menyesatkan. Semut saja tidak sudi makan makanan beracun, apalagi kita yang diciptakan sebagai sebaik baiknya mahkluk. A little change now, for a big change tomorrow, Sebuah perubahan kecil sekarang, untuk sebuah perubahan besar besok.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s