Kang yoto, Piye crane mbuat Ambeng

Skinfo Romantika:

“Karena sudah terbiasa, TERSERAH Bapak, maka terbiasa manja, maka anak tidak bisa mandiri bahkan sulit untuk dilatih mandiri. Karena dulu sudah tergantung pada Bapak. Sehingga mikirnya hanya piye ‘berkate’ nanging ora mikir piye carane iso nggawe “ambeng”. Maka anak jangan di tuman (dibiasakan manja dan tergantung angannya pada orang tua), Kang YOTO suwene patang tahun ora gelem cerita, amarga Kang YOTO siap, dipaedo, diwadani, siap berakit-rakit dahulu dan sanggup disalahkan. Dan jadi pemimpin jangan ingin disanjung dan jangan terlena karena sanjungan, tetapi harus mau dan berusaha mampu menjadi IMAM yang baik, termasuk harus bisa bagaimana bisa membelanjakan uang dengan baik, mengalokasikan belanja, mendistribukan belanja dan melayani publik dan bagaimana cara mencari duit untuk belanja tersebut yang tidak harus membebani ma’mum, maka gunakan ilmu dan akal yang sehat (Tidak Korupsi), gunakan dari hasil baik untuk yang baik, jangan gunakan hal dari hasil jelek, agar dapat pahala yang baik dan berkah. Dan jangan jadi pemimpin yang inginnya dilayani saja, tetapi jadilah pemimpin yang bisa melayani publik dengan baik. Sebab jika demikian, Insya Allah, rejeki akan datang yang kita tidak bisa menyangka datangnya”, cuplikan thausiyahnya Kang YOTO (Bupati Bojonegoro).

Dadi pemimpin ojo kaya lagu, “Gundhul-gundhul Pacul, Gembelengan, Nyunggi-nyunggi Wakul-kul, Gembelengan, Wakul Ngglempang segane dadi sak latar”, maknanya jadi pemimpin yang membawa amanah, jangan, jangan nggembela-gembelo, apalagi nyunggi WAKUL isinya nasi untuk makan orang banyak, akhirnya amanah berupa nasi untuk kelangsungan kehidupan, kutah/muspro’ dihalaman rumah (Latar). Kalau begitu ceritanya, maka warga yang dipimpin akan bernyanyi, “Manuk blekoq manuk blekoq etane kali, etan kali-etan kali omahe ‘WEWE (anak Genderuwo), arep takoqarep takoq ora wani, merga wedi, sing gawe bapak-e dhewe, mula kabeh dadi, ‘ele-elo sawo dipangan uler, ela-elo wong bodho ngaku pinter. Ela-elo ojo sok korupsi, ela-elo mengko getun tibo mburi. Mula senadian durung ono ambeng sing diberkat (kalau Tradisi kenduri). Maka harap dimaklumi, sebab saking akehe utang yang harus dibayar, Rp. 350 Milyard, Alhamdulillah, dengan mengoptimalkan pajak, bahkan sampai-sampai sudah ada kesepakatan mendahului PERDA sudah jadi. Biar jadi pemimpi tetapi harus bisa menjadikan mimpi tersebut jadi kenyataan, dan bukan mimpi-mimpi yang tapi semu, marilah kita, berjuang-berjuang, menghadapi segala aral yang merintang, dan sertailah dengan do’a. lagunya apa, Ko? (Eko Penulis). “Perjuangan dan Do’a,”

“Qayyidul ilma bilkitaabati wanni’mata bisysukri = ikatlah ilmu itu dengan tulisan, dan ikatlah kenikmatan dengan kesyukuran’, kalimat dari timur tengah ini mengingatkan kita, bahwa janganlah kita selalu berlagak miskin, supaya bebas pajak, selalu disantuni, tetapi syukurulah segala nikmat yang diberikan Allah, kepadamu”.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s