Burung Pipit dan Kakek Tua

Jika Allah mengizinkan, besok pagi kita masih melihat sinar matahari terbit. Hari-hari, minggu, bulan dan tahun-tahun yang telah lewat pasti kita tinggalkan dan takkan kembali. Ke depan, kita hanya bisa menyongsong hari-hari yang pasti datang, yang di dalamnya kita harus terus menciptakan kebaikan. Akankah esok kita memperoleh kebahagiaan? Bagaimana mendapatkannya? Kapan menemukannya?

Menjawab pertanyaan ini, marilah kita simak kisah seorang kakek dan seekor pipit.

Alkisah, seorang kakek asal kota Baghdad, Iraq, pergi ke berbagai negeri mencari kebahagiaan tadi. Di sebuah oase, dia melihat seekor burung pipit yang sangat indah. Dia berhasil menangkapnya.

Burung ini ternyata bisa bicara. ‘Kakek, tolong lepaskan saya, nanti permintaan kakek akan saya penuhi,’ kata si burung.

‘Baik, kalau dapat menjawab pertanyaan saya, kamu saya lepaskan,’ kata si kakek. ‘Di mana, kapan, dan bagaimana memperoleh kebahagian?’

Jawab sang burung pipit:

Pertama, jangan percaya siapa pun kecuali Tuhan.

Kedua, jangan berharap sesuatu yang kamu tak akan sanggup mendapatkannya.

Ketiga, jangan sesali masa lalumu.

Merasa puas, si kakek melepaskan burung itu. Tapi, begitu dilepas, si burung meledek manusia tua itu. ‘Dasar kakek bodoh,’ kata hewan itu. ‘Sebetulnya, kalau kakek tidak melepaskan saya, saya akan memberikan telur emas.’

Si kakek sangat menyesal dan mengejar burung itu. Hewan ini lalu hinggap di ranting pohon cemara. Kakek yang penasaran ini lantas berusaha meraihnya dan… dia terjatuh lalu pingsan.

 

Ketika kakek ini siuman, burung tersebut mendekatinya.

‘Dasar manusia, baru beberapa menit saya beri petunjuk meraih kebahagiaan, kamu sudah lupa lagi. Ingat Kek, apa yang saya katakan tadi. Kakek jangan percaya pada siapa pun kecuali Tuhan! Saya ini burung, mengapa Kakek percaya saya?’

 

‘Kedua, tadi saya katakan jangan berharap pada sesuatu yang kamu tidak dapat meraihnya. Karena Kakek melanggar, akhirnya Kakek jatuh dan pingsan.’

 

‘Ketiga,’ lanjut si burung, ‘Jangan sesali masa lalu. Mengapa Kakek menyesal? Bukankah apa yang kakek kerjakan, yakni melepaskan saya, sudah terjadi?’

 

Sambil terbang mengangkasa, burung ini mengaku malaikat utusan Tuhan untuk memberikan pelajaran kepada umat manusia. Semoga, mulai hari ini kita bukanlah kakek bodoh yang menyesali masa lalu kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s