[Cerpen] Hanya sekedar Impian

Hidup ini memang tak selamanya bisa indah penuh dengan pengorbanan dan perjuanagan. Cobaan akan selalu kita hadapi dalam dunia ini. Memang sangat sulit jika kita tidak dapat menghadapinya, ada yang berujung kesedihan dan kegembiraan, itu yang aku rasakan kini. Tak ada manusia yang terlahir sempurna, terus tetap jalani hidup ini agar kita mendapat pengalaman yang sangat berharga.
Saat ini aku sudah menginjak remaja, tak terasa perjuanagan orang tuaku 14 tahun yang lalu, dengan penuh perjuangan dan harapan melahirkan aku dengan semangat melihat dunia nyata ini. Sungguh sulit membayangkan jika aku menjadi ibuku yang susah payah mengeluarakan aku dari dalam perutnya. Mungkin rasa sakit itu akan terobati dengan melihat tangisan dari seorang anaknya. Perjuangan itu tak akan selesai begitu saja. Seorang ibu pasti akan selalu menjaga dan menyayangi anaknya dengan penuh kasih sayang, terbukti hingga aku sebesar ini sekarang.
Apa yang aku rasakan tak sebanding dengan perjuangan orang tuaku dulu. Seringnya aku sekarang tidak menuruti apa yang tidak diucapkan oleh orang tuaku. Aku baru menyadari sekarang, sungguh besar kekuasaan yang maha kuasa, engkau yang telah menyadarkan aku atas ini semua. Aku sampai disini tak lain lagi kalau tak bukan karna iringan kedua orang tuaku. Mereka selalu mendukungku atas semua yang aku lakukan, tetapi aku selalu saja membangkang. Doa ibu adalah doa yang paling manjur dalam meniti prestasiku, selain doa dari kedua orang tuaku, aku tak akan menjadi siapa-siapa.
Namun yang aku jalani saat ini sangat bertentangan dengan pendapat kedua orang tuaku, mereka tidak merestui hubunganku dengan seseorang yang sangat aku sayangi dan aku cintai. Namanya adalah Alfan, dia yang membuat hari-hariku terasa indah. Membuat aku melupakan beban pikiranku walaupun sedikit. Tapi itu semua mungkin tak akan selamanya abadi. Memang aku selalu tak pernah bisa membantah apa yang dikatakan kedua orang tuaku. Aku tak pernah berhenti melakukan apa yang aku lakukan saat ini, tapi pengorbanan itu sangatlah sia-sia, orang tuaku tetap tidak merestui hubunganku, sekali tidak tetap tidak itulah yang dikatakan oleh kedua orang tuaku. Hingga aku pasrah, demi orang tuaku bahagia, aku mengorbankan perasaanku untuk membahagiakan kedua orangtuaku. Saat ini aku hanya bisa menangis dan ikhlas, mungkin itu memang jalan yang terbaik untuk ku. Aku hanyalah manusia biasa yang tak luput dari kesalahan dan kekurangan. Dengan melupakan hubungan ini, mungkin aku bisa sedikit membahagiakan orang tuaku. Aku memang tak sanggup menjalani semua ini, tetapi mungkin ini adalah awal dari keberhasilanku untuk mengapai kebahagiaan yang lebih baik.
Tiga bulan aku menjalani apa yang diinginkan oleh kedua orangtuaku tetapi aku tak sanggup lagi menerima ini, aku sama sekali tak ingin melawan kedua orang tuaku, orang tuaku adalah segalanya bagiku. Mungkin ini semua adalah takdirku, aku mungkin tak sanggup lagi dengan semua ini. Setiap hari aku selalu merasa di kekang oleh kedua orang tuaku, sampai handphonepun selalu diperiksa.
Berat rasanya semua ini, tapi kenapa semua pikiran ku hanya untuk Alfan. Hanya dia yang bisa mengisi dan meluluhkan hatiku, tapi dia tak menghubungiku sama sekali semenjak dia tahu bahwa kedua oran tuaku tak merestui hubungan kita. Aku berusaha mendekati dan menjelaskan semuanya kepada Alfan.
Ahkirnya dia mengerti yang aku alami. Kini, tak ada lagi yang aku pikirkan kecuali kerja keras untuk belajar dan mendapatkan sebuah prestasi agar bisa membuat kedua orang tuaku bangga. Tapi, aku berfikir lagi mengapa aku tidak mencoba berhubungan lagi dengan Alfan, meskipun hanya bersahabat ,dan dengan cara yang sembunyi-sembunyi agar tidak diketahui oleh kedua otang tuaku. Sebenarnya aku ingin seklai bahagia, tapi aku tak ingin menyakiti hati kedua orang tuaku. Ahkirnya aku memutuskan untuk berhubungan lagi dengan Alfan, dan Alfan menyetujuinya.
Hubungan ku dengan Alfan tak diketahui oleh siapapun, bahagia rasanya aku selalu diperhatiin Alfan, serasa dunia milik ku dan Alfan. Kebahagiaan tak terasa saat aku bersama Alfan, mungkin Alfan tak menyadari bahwa aku sangat menyayanginya.
Tiga bulanpun berlalu, ahkirnya semua orang mengetahui hubunganku kecuali kedua orang tuaku. Tetapi, aku sadar akan pepatah lama yang mengatakan sedalam-dalamnya bangkai ditutupi pasti akan tercium juga, memang aku sangat khawatir dengan ini, tapi aku tak bisa berbuat apa-apa lagi.
Pagi yang membahagiakan, aku berangkat ke sekolah dengan mengebu-ngebu berharap kebahagiaan menghampiriku. Tapi, itu hanya anganku saja tiba-tiba aku dikagetkan dengan perubahan sifat Alfan yang berubah total kepada ku, tak sanggup rasanya menerima semua ini. Aku tak tahu apa yang sebenarnya terjadi padanya, tapi aku berusaha mencarinya. Ahkirnya, aku mengetahuinya ternyata dia mendapat sebuah SMS dari kedua orang tuaku, agar tidak menganggu aku lagi. Bagai teriris pisau hatiku ini. Tak bisa aku membayangkan ini semua akan terjadi begitu cepat, berhari-hari aku merasakan kebahagiaan yang tak pernah aku rasakan bersamanya hilang begitu saja. Tapi, aku berusaha membujuk orang tuaku agar bisa dengan ikhlas menerima Alfan dan menyetujui hubungan kami, tetapi usaha itu sangatlah sia-sia, kedua orangtuaku melarangku bertemu dengannya, aku juga tak tahu mengapa orang tuaku begitu sulit menerimanya.
Aku tau cinta memang tak harus memiliki dan aku sadar aku tak bisa melawan keinginan orang tuaku, sangat sulit masalah yang aku alami bersama dia. tapi dia tak pernah mengerti hal itu. Dia ak pernah sadar bagaimana pengorbananku selama ini untuknya.
Malam yang dingin membuatku susah untuk tidur, suara hewan-hewan kecilpun menemani malamku yang sepi ini, angin berhembus hingga menusuk tulang rusuk ku. Memang sakit yang ku rasa, tapi aku mencoba tegar untuk menghadapi ini semua. Sebuah SMS menghentikan dari lamunanku, aku berharap SMS itu dari Alfan, ternyata benar itu SMS dari Alfan aku sangat senang sekali melihatnya, dengan semangat aku membuka SMS iu dan membacanya.
Cinta memang tak selamanya bisa indah
Cinta juga bisa berubah menjadi sakit
Begitu yang ku rasakan kini
Perih hatiku tinggal kehancuran
Tak pernah terbayangkan & tak pernah terfikirkan cintamu & cintaku berpisah
Namun harus ku relakan itu
Untuk hidupmu agar lebih baik
Maafkan aku setulus hatimu
Kepergian diriku itu bukan keinginanku
Terima saja dengan pilihan yang lain dari orang tuamu
Jangan bersedih dengan keadaan ini
Jika kamu menangis aku juga ikut menangis
Terima saja semua ini, ku lakukan hanya untukmu.
Bagai teriris pisau rasanya membaca SMS dari Alfan, tak sanggup aku menerima kenyataan yang pahit ini. Aku tak tahu apa lagi yang harus aku lakukan. Mungkin memang sudah takdirku mencintai tanpa ada balasan cinta dari seseorang yang kita cintai. Dan aku mencoba tegar dan membalas SMS Alfan, walau hati ini sangat perih.
Setiap malam aku selalu termenung
Terbayang dapa bersamamu
Ingin ku ulangi sekali lagi
Rasa indah yang pernah ku alami bersamamu
Kurasakan kehampaan
Kurasakan kehangatan
Cintai aku lagi seperti waktu
Tak bisa ku hindari hatiku selalu merindu
Sayangi aku lagi ak mampu ku sendiri
Tanpa hadirmu tanpa cintamu
Rasa sayang, rasa cinta yang selalu aku dambakan
Tak pernah lelah hati ini menantimu kembali
Tak pernah aku membayangkan semua akan seperti ini. Hari-hariku tanpa Alfan rasanya bagai tak bermakna saja. Dan malam itu aku tak bisa tidur sama sekali, aku hanya berharap Alfan membalas SMS ku. Tapi, mungkin dia sudah tertidur lelap.
Liburan sekolahpun datang, sebenranya aku tak sanggup 2 minggu tak bertemu dengannya. Tapi, aku hanya bisa berdoa dan pasrah semoga liburan sekolah cepat berlalu, dan aku bisa bertemu lagi dengan Alfan. Aku tak sanggup selama 2 minggu tak bertemu dengannya. Tapi semoga dia juga merasakan apa yang aku rasakan.
Malam yang sangat cerah membuatku ingin pergi keluar rumah untuk melihat bulan yang indah, yang memancarkan sinarnya, tiba- tiba aku dikagetkan dengan suara sebuah sepeda montor yang sangat aku kenali dan berhenti di depan rumahku. Ternyata Alfan, bahagianya hatiku ini melihatnya menyinggungkan senyumnya kepadaku. Tetapi keadaan berkata lain, kedua orang tuaku langsung mengusirnya begitu tau jika dia akan masuk kedalam rumah. Aku tidak bisa membantah kedua orang tuaku, disisi lain aku sangat menyayanginya, tetapi disisi lain aku juga sangat menyayangi kedua orang tuaku.ahkirnya dia pergi tanpa melihatku sedikitpun. Entah setan apa yang merasukiku saat itu, aku berani melwan kedua orang tuaku didukung perasaan cinta yang sangat mendalam. Tak pernah aku duga hati orang tuaku tak kunjung luluh juga. Mereka, malah mengusirku dari rumah, semua barang yang aku punya dibuang dihadapanku. Handphone adalah barang yamg berharga yang saat itu aku punya, juga diambil oleh mereka. Aku tak bisa berbuat apa-apa lagi.
Waktu sudah menunjukkan pukul 00.00 WIB, aku hanya bisa menangis dan menyesalinya. Seperti orang gila saja aku tidur di depan rumahku sendiri. Malampun membuatku sedikit tertidur, dan sedikit melupakan semua yang aku alami tadi. Kaki orang terasa menendangiku, ternyata itu adalah tangan ibuku yang berusaha membangunkanku dari tidur lelapku. Ibuku mencobaku tidur di dalam rumah, dengan mataku yang sembab aku masuk ke dalam rumah.
Aku mencintai Alfan tapi orang tuaku tak menyadarinya, malah mereka juga tak merestui hubungan kami. Liburan yang seharusnya membuatku bahagia karena berhenti dari tugas-tugas sekolah tapi malah jadi hari-hari yang menyakitkan buatku. Semoga saja ini semua cepat berlalu dan bisa bertemu kembali dengan Alfan kembali ke sekolah. Dan dapat mengobati rasa kangenku selama ini ke dia. Aku hanya bisa berharap dia mengalami hal yang sama denganku.
Dua minggu liburan yang menyakitkan berjalan begitu lama. Aku berangkat ke sekolah dengan hati yang bimbang, bagaimana aku harus menghadapi Alfan jika bertemu nanti. Keadaan yang membuat aku menerima semua keinginan orang tuaku. Dia mengerti keinginanku sekarang ini, dia sama sekali tak menghubungiku. Dia juga menerima keinginan orang tuaku. Aku tak bisa berbuat apa- apa lagi, aku harus bisa menerima semua ini dengan ikhlas. Memang aku tak mengerti, apa yang difikirkan orang tuaku saat ini. Tapi aku berusaha memahaminya.
Semoga kehidupanku yang datang bisa lebih baik dari sebelumnya, tapi aku akan berusaha menjaga hatiku untuknya. Tak ada lagi yang bisa aku lakukan tanpanya. Mungkin, memang bukan dia yang terbaik untuk ku, aku mengerti hal itu, sangat mengerti.

One response to “[Cerpen] Hanya sekedar Impian

  1. Pingback: Iringan Doa Ibu untuk Perjuangan Hidup | lazionews.info

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s